Sangat ironis memang ketika saya melihat jumlah angka pengangguran, apalagi menurut harian kompas jumlah sarjana nganggur melonjak dari 183.629 orang pada tahun 2006 menjadi 409.890 orang pada tahun 2007. Jika ditambah dengan dengan pemegang gelar D1, D2, dan D3, angka tersebut melonjak menjadi 740.000. Rasanya miris ketika banyak sekali teman-teman luntang-lantung membawa setumpuk lamaran pekerjaan, atau melihat mereka membaca iklan lowongan kerja di surat kabar sampai pada iklan yang sangat kecil-kecil (iklan baris). Sering saya mendengar, si X telah lulus kuliah, 5tahun masih dalam proses mencari kerja, hanya mencari kerja…

Sebenarnya, kalau ditelaah lebih dalam lagi, kenapa fenomena miris ini bisa terjadi, menurut saya adalah karena mereka, sarjana-sarjana Indonesia (sebagian besar) bermental buruh. Ditambah lagi
dengan pemahman feodalisme orang-orang Belanda yang telah tertanam lekat dalam diri mereka dan orangtua-orangtua mereka, yaitu seseorang dianggap mempunyai prestice, atau dianggap makmur secara finansial jika berprofesi sebagai pegawai, baik pegawai negeri atau pegawai swasta. Banyak diantara mereka yang mengeluhkan bahwa ini adalah kesalahan pemerintah yang tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan, atau mereka menyalahkan sistem pendidikan di Indonesia yang hanya berorientasi pada penciptaan baut-baut kapitalisme, Hhhh….




Kenapa tidak terbuka mata mereka untuk melihat berbagai peluang yang berseliweran di sekeliling mereka, kenapa tidak terbuka telinga mereka kalau Islam telah menyebutkan bahwa 9 dari 10 pintu rizki adalah dari perdagangan.

Menurut keterangan yang berhasil saya himpun (wuih, kayak berita aja), kebanyakan mereka merasa takut, yang dikemukakan dengan berbagai alasan: tidak punya bakat, ga ada modal, ga ada peluang, ga punya ilmunya, lokasi ga strategis, dan bla bla bla sejuta alasan lain. Menurut saya, itu merupakan takut yang sama sekali tidak beralasan. Mereka hanya dibayang-bayangi ketakutan pada diri mereka, pada bayangan-bayangan kegagalan yang mereke ciptakan dalam pikiran mereka sendiri. Yang pada intinya adalah mereka takut menanggung resiko.

Disinilah, satu hal yang menjadi pembeda antara seorang pengusaha sukses dengan seorang pecundang pencari kerja  adalah keberanian menaggung resiko, resiko gagal ataupun resiko berhasil, resiko dicemooh orang karena kegagalan ataupun resiko dipuji orang karena keberhasilan. Seandainya mereka tidak berkutat pada bayangan-bayangan resiko kegagalan dan berfokus pada bagaimana menyingkirkan berbagai halangan yang membuat kita berhenti sejenak dalam perjalan menuju kesuksesan, niscaya mereka akan mencapai kesuksesan itu.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top